INPUT, PROSES DAN OUTCOME MUTU PENDIDIKAN


INPUT, PROSES DAN OUTCOME MUTU PENDIDIKAN

 


dibuat untuk  memenuhi tugas mata kuliah
Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan Islam (MPMPI)


Dosen pengampu:
Dr. Syaiful Annur, M.Pd.

Dibuat oleh:
Ahmad Firmansyah
NIM 19102012004



FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN FATAH
PALEMBANG
2020



BAB I
PENDAHULUAN

A.         Latar Belakang
Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh manusia dalam rangka meningkatkan potensi dan kecerdasannya baik untuk mengembangkan kecerdasan spiritual, emosional dan sosial, termasuk di dalamnya meningkatkan kemampuan motorik (skill). Oleh karenanya, dalam konteks ini, pendidikan meniscayakan adanya kebutuhan (need), akibat (cause), dan tujuan (goal) yang ingin dicapai.

Selain itu Kegiatan pendidikan bukanlah sekedar gejala sosial yang bersifat rasional semata, mengingat kita mengharapkan pendidikan yang terbaik untuk bangsa Indonesia, lebih-lebih untuk anak-anak kita masing-masing; ilmu pendidikan secara umum tidak begitu maju ketimbang ilmu-ilmu sosial dan teknologi tetapi tidak berarti bahwa ilmu pendidikan itu sekedar ilmu atau suatu studi terapan berdasarkan hasil-hasil yang dicapai oleh ilmu-ilmu sosial dan ilmu perilaku (psikologi pendidikan).Ilmu pendidikan diharapkan akan dapat menjadi landasan yang kuat serta dapat diterapkan oleh para pendidik dan tenaga kependidikan dalam rangka peningkatan mutu pendidikan itu sendiri.

Upaya pencapaian ini harus dilakukan secara terencana, sistematis dan berkelanjutan. Pada pasal 31 ayat 2, Undang-undang Dasar 1945 mengamanatkan agar pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional. Ketentuan ini terkait dengan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa, serta meningkatkan kesejahteraan umum dan dapat diperolehnya pekerjaan dan kehidupaan yang layak bagi kemanusiaan.
  
Terkait dengan pernyataan di atas, sudah sepatutnya upaya-upaya dalam rangka meningkatkan pencapaian tersebut harus diikuti dengan sistem input dan proses yang baik sehingga output dan outcomenya, memuaskan semua pihak yaitu, masyarakat pemerintah dan stake holders pendidikan.

B.         Rumusan Masalah
Dari uraian di atas maka kami dapat merumuskan beberapa permasalahan, yakni sebagai berikut:
1.             Apa yang dimaksud dengan input, proses, output dan outcome dalam pembelajaran?
2.             Apa saja kebijakan tentang input, proses, output dan outcome dalam pembelajaran?
3.             Bagaimanakah solusi terhadap fakta yang terjadi mengenai input, proses, output dan outcome dalam pembelajaran?

C.        Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui teori-teori tentang input, proses, output dan outcome dalam pembelajaran.
2.      Menganalisis kebijakan-kebijakan yang ada tentang input, proses, output dan outcome dalam pembelajaran.
3.      Menganalisis solusi terhadap fakta yang terjadi mengenai input, proses, output dan outcome dalam pembelajaran














BAB II
PEMBAHASAN
INPUT- PROSES-OUTPUT-OUT COME PENDIDIKAN BERMUTU

1.       Input
a.       Input berdasarkan teori
 Input adalah semua potensi yang ‘dimasukkan’ ke sekolah sebagai modal awal   kegiatan pendidikan sekolah tersebut. Berkaitan dengan siswa, input adalah ‘siswa baru’ yang diterima dan siap dididik/diberdayakan.

Untuk ketercapaian pendidikan bermutu, fungsional, produktif, efektif dan akuntabel, maka diperlukan beberapa hal yang terkait dengan input yang antara lain: peserta didik – ketenagaan, fasilitas, biaya, kurikulum, perencanaan dan evaluasi, hubungan sekolah masyarakat dan iklim sekolah yang memadai (Mulyasa, 2013).

   b.    Fakta dari input pendidikan
1.      Peserta didik
a)             Jumlah peserta didik tiap rombongan belajar, dibeberapa sekolah belum mengacu kepada Standar Pelayanan Minimal ataupun Standar Nasional Pendidikan masih ada yang mengacu pada SPM/SNP.
b)             Ada kesenjangan diantara sekolah dengan sekolah lain (sekolah favorit dan sekolah tidak favorit)
2.      Ketenagaan
a)             Belum merata jumlah tenaga pengajar di setiap jenjang  persekolahan.
b)             Kesesuaian  ijazah dengan mata pelajaran yang diajarkan
c)             Kesejahtraan yang belum merata.
d)             Sistem yang proporsional.
e)             Belum sepenuhnya guru yang diangkat berpendidikan profesional.

3.      Fasilitas
Fasilitas di sini menyangkut  prasarana dan sarana pendidikan. Fakta di berbagai daerah bahwa prasarana pendidikan masih belum memadai baik secara kuantitas maupun secara kualitas.
Misal :
a)         Masih kekurangan  jumlah kelas.
b)         Masih banyak kelas yang kurang layak huni.

4.      Biaya
Sumber biaya pendidikkan sampai saat ini umumnya masih bersumber dari pemerintah yang berupa BOS, hibah, DAK, dll. namun walau demikian pada kenyataannya bahwa pendidikan menurut sebagian masyarakat masih menjadi “barang” mewah.

   5.   Kurikulum
Kurikulum saat ini masih menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dibuat oleh masing masing sekolah.
a)             Perencanaan dan Evaluasi.
Dalam memajukan suatu lembaga atau satuan pendidikan dan untuk menujukan suatu keberhasilan pada satuan pendidikan mutlak perencanaan dan evaluasi perlu dibuat dengan melalui RAKS/RAPBS-KTSP–silabus dan program evaluasi.
b)             Kenyataan di lapangan, perencanaan dan evaluasi belum sepenuhnya di buat oleh sekolah dan guru.
c)             Dokumen perencanaan dan evaluasi belum sepenuhnya di buat oleh sekolah sendiri.
d)            Hubungan sekolah dan iklim sekolah.
Hubungan sekolah dan iklim sekolah merupakan salah satu bagian dari sistem input,namun demikian, informasi dan pemahaman pelaku dilapangan, tentang iklim sekolah tersebut masih minim bahkan pada dimensi hubungan menunjukan sejauh mana keterlibatan personalia yang ada di sekolah guru, kepala sekolah, peserta didik bahkan lingkungan sekitar dan sejauh mana mereka bisa mengoperasikan kemampuan mereka secara bebas dan terbuka itupun belum efektif.

Fakta dilapangan melaksanakan proses pembelajaran, walaupun secara kebijakan telah ditetapkan oleh SNP (Standar Nasional Pendidikan) adanya Kurikulum dan KTSP, namun guru masih juga kurang memperhatikan hal-hal yang tercantum dalam dokumen tersebut. Misalnya kurang memperhatikan :
1)             Keragaman kebutuhan peserta didik.
2)             Motivasi
3)             Pembelajaran yang menyenangkan
4)             Layanan yang bijak dan berkeadilan.
5)             Memberikan pengayaan.

c.       Kebijakan  
Pasal 31 ayat 1,2,3,4,5, berbunyi :
Ayat 1 : Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.
Ayat 2 : Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.
Ayat 3 : Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional,yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa ,yang diatur dengan undang-undang.
Ayat 4 : Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan nasional.
Ayat 5 : Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradapan kesejahteraan umat manusia.

d.      Solusi input pendidikan
Upaya memecahkan masalah pendidikan hendaknya dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem. Dengan pendekatan ini pendidikan dipandang sebagai suatu sistem, suatu kesatuan yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan untuk mencapai suatu tujuan.

2.       Proses
 a.      Teori
Proses adalah suatu pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami atau didesain dengan sengaja (Mulyasa, 2012). Pesan-pesan penting akan dapat ditangkap dan dicerna bila para pelaku pendidikan mampu mendesain secara interaktif dan sederhana.

Proses pembelajaran (PBM) merupakan ujung tombak dari proses pendidikan, yang mana suatu kegiatan dilakukan oleh guru, berkaitan dengan materi ajar, berlangsung dan dikemas secara interaktif, menyenangkan, menantang, memotivasi serta merangsang peserta didik untuk berpikir, aktif, kreatif, dengan menggunakan berbagai pendekatan rahman dan rahim (kasih sayang serta penuh cinta).

 b.      Fakta
Guru merupakan ujung tombak dalam meningkatkan kualitas pendidikan, dimana guru akan melakukan interaksi landsung dengan peserta didik dalam pembelajaran di ruang kelas. Melalui proses belajar dan mengajar inilah berawalnya kualitas pendidikan. Artinya, secara keseluruhan kualitas pendidikan berawal dari kualitas pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di ruang kelas.

Secara kuantitas, jumlah guru di Indonesia cukup memadai. Namun secara distribusi dan mutu, pada umumnya masih rendah.  Hal ini dapat dibuktikan dengan masih banyaknya guru yang belum sarjana, namun mengajar di SMU/SMK, serta banyaknya guru yang mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka miliki. Keadaan ini cukup memprihatinkan, dengan prosentase lebih dari 50% di seluruh Indonesia.

Menurut data Kemendiknas 2010 akses pendidikan di Indonesia masih perlu mendapat perhatian,  lebih dari 1,5 juta anak tiap tahun tidak dapat melanjutkan sekolah. Sementara dari sisi kualitas guru dan komitmen mengajar terdapat lebih dari 54% guru memiliki standar kualifikasi yang perlu ditingkatkan dan 13,19% bangunan sekolah dalam kondisi perlu diperbaiki.
Hal ini seharusnya menjadi salah satu titik berat perbaikan sistem pendidikan di Indonesia, mengingat semakin maju-nya suatu negara bermula dari pendidikan yang berkualitas, pendidikan yang berkualitas bermuara dari pembelajaran yang berkualitas, pembelajaran yang berkualitas dimulai dari pengajar yang berkualitas pula.

c.       Kebijakan
 Kebijakan pendidikan di Indonesia berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, diarahkan untuk mencapai hal-hal sebagai berikut:
1.      Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia menuju terciptanya manusia Indonesia berkualitas tinggi dengan peningkatan anggaran pendidikan secara berarti;
2.      Meningkatkan kemampuan akademik dan profesional serta meningkatkan jaminan kesejahteraan tenaga kependidikan sehingga tenaga pendidik mampu berfungsi secara optimal terutama dalam peningkatan pendidikan watak dan budi pekerti agar dapat mengembalikan wibawa lembaga dan tenaga kependidikan;
3.      Melakukan pembaharuan sistem pendidikan termasuk pembaharuan kurikulum, berupa diversifikasi kurikulum untuk melayani keberagaman peserta didik, penyusunan kurikulum yang berlaku nasional dan lokal sesuai dengan kepentingan setempat, serta diversifikasi jenis pendidikan secara professional;
4.      Memberdayakan lembaga pendidikan baik sekolah maupun luar sekolah sebagai pusat pembudayaan nilai, sikap, dan kemampuan, serta meningkatkan partisipasi keluarga dan masyarakat yang didukung oleh sarana dan prasarana memadai;
5.      Melakukan pembaharuan dan pemantapan sistem pendidikan nasional berdasarkan prinsip desentralisasi, otonomi keilmuan dan manajemen;
6.      Meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang diselenggarakan baik oleh masyarakat maupun pemerintah untuk memantapkan sistem pendidikan yang efektif dan efisien dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
7.      Mengembangkan kualitas sumber daya manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu dan menyeluruh melalui berbagai upaya proaktif dan reaktif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan hak  dukungan dan lindungan sesuai dengan potensinya;
8.      Meningkatkan penguasaan, pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi bangsa sendiri dalam dunia usaha, terutama usaha kecil, menengah, dan koperasi

d.      Solusi
Dari perspektif manajemen pendidikan, masalah pendidikan dapat terjadi jika kepala sekolah dan juga para guru tidak mampu menjadi manajer-manajer pendidikan yang baik. Masalah tersebut bisa saja terjadi karena : a. dirinya tidak memiliki pengetahuan yang memadai mengenai konsep-konsep manajemen pendidikan, b.dirinya kurang memahami konsep-konsep dasar pendidikan, dan c. dirinya tidak atau kurang memiliki kemampuan dan karakteristik sebagai manajer pendidikan, sehingga tidak mampu menjalankan peran sesuai dengan statusnya. Masalah kualitas manajer pendidikan seperti itu bisa terjadi karena kesalahan dalam penempatan. Seorang yang sebenarnya belum atau tidak siap untuk menjadi pemimpin karena faktor tertentu dia diangkat menjadi kepala sekolah. Masalah-masalah pendidikan juga dapat terjadi jika para pemimpin institusi pendidikan lebih banyak menempatkan dirinya sebagai kepala dan bukan sebagai pemimpin. Sebagai kepala mereka bertindak sebagai penguasa, hanya bertanggung jawab pada pihak atasan, dan melakukan tugas-tugas karena perimintaan atasan. Jika kepala sekolah lebih banyak bertindak sebagai kepala maka dirinya akan kesulitan memberdayakan semua personal yang ada agar tujuan pendidikan tercapai.





3.      Output
a.       Teori
Output merupakan hasil dari proses, menghasilkan lulusan sesuai dengan standar tertentu dan tentunya diharapkan memenuhi keinginan masyarakat, orang tua dan pemerintah.  Output pada dasarnya akan banyak dipengaruhi oleh input dan proses, keefektifan proses. Sistem input yang berkualitas tentu dapat menghasilkan output yang berkualitas pula. Teori Sistem informasi “Gold in-Gold out” dapat digunakan dalam hal ini. Suatu output dikatakan berkualitas (baca: bermutu) apabila telah memenuhi beberapa persyaratan yang  ditentukan  oleh Standar Nasional Pendidikan (SNP).

Output pendidikan sebagai suatu sistem sewajarnya dapat dicerminkan dari suatu prestasi mutu lulusan sekolah yang sejatinya merupakan suatu proses pembelajaran yang didukung oleh semua unsur baik dari level kementerian, dinas pendidikan propinsi, kabupaten/kota, kecamatan, sampai pada kelembagaan persekolahan yang merupakan unit terkecil. Dengan kata lain, makro, meso dan mikro pendidikan secara bersama-sama menjalankan perannya sehingga menghasilkan output yang terstandar dengan baik.

b.       Fakta
Fakta-fakta lain yang ditunjukan pada output pendidikan antara lain :
1.             Masih banyak lulusan sekolah belum terserap dunia kerja padahal tujuan sekolah SMK untuk mempersiapkan lulusan siap kerja.
2.             Tidak memiliki keterampilan spesial atau khusus
3.             Kualitas lususan relatif masih rendah.

Dunia pendidikan di indonesia harus lebih berbenah agar dapat meningkatkan kredibilitas di tingkat internasional. Namun tidak dipungkiri fakta kekinian yang yang ada adalah:
1)            Krisis kejujuran
2)            Krisis akhlak/moral ( sering tawuran )
3)            Sekolah melahirkan pengangguran
4)            Keahlian belum sesuai dengan dunia kerja.

Itulah fakta-fakta kekinian yang selalu akrab di tengah masyakat. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati karena masih banyak lulusan pendidikan nasional yang dipekerjakan oleh negara lain bahkan menjadi tenaga ahli. Lulusan hasil pendidikan nasional bisa meneruskan  ke perguruan tinggi di luar Indonesia, bahkan banyak mahasiswa Indonesia di luar negeri yang melanjutkan kuliahnya dengan bantuan beasiswa dari perguruan tinggi itu.

c.       Kebijakan
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 pada Pasal 1 ayat (1) bahwa: ”Pendidikan tinggi adalah pendidikan pada jalur pendidikan sekolah pada jenjang yang lebih tinggi daripada pendidikan menengah di jalur pendidikan sekolah”. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pelaksanaannya pendidikan tinggi menyelenggarakan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi dari jenjang pendidikan sekolah, dan diharapkan dapat mengghasilkan lulusan atau output yang memiliki kualifikasi sebagai berikut: a. Menguasai dasar-dasar ilmiah dan ketrampilan dalam bidang keahlian tertentu sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan, dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada di dalam kawasan keahliannya. b. Mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya sesuai dengan bidang keahliannya dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata kehidupan bersama. c. Mampu bersikap dan berperilaku dalam membawakan diri berkarya di bidang keahliannya maupun dalam berkehidupan bersama di masyarakat. d. Mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan atau kesenian yang merupakan keahliannya.

d.      Solusi
Peserta didik bukanlah benda, akan tetapi individu yang memiliki potensi, kecerdasan kemampuan dan minat yang berbeda. Disamping itu juga pesrta didik bukanlah individu dalam bentuk “min” akan tetapi makhluk yang sedang berkembang. Tinggal lagi bagaimana pengajar mengakali atau menetukan suatu strategi pembelajaran. Dimana dalam proses pembelajaran guru bukan hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya akan tetapi juga sebagai pengelola pembelajaran(manager of learning). Dengan demikian, efektivitas proses pembelajaran sangat ditentukan oleh kualitas atau kemampuan guru. Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, sedangkan prasarana adalah sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran

4.       Outcome
a.       Teori
Outcome pendidikan merupakan keuntungan atau manfaat (benefit) yang dirasakan baik oleh siswa, yang menjadi keluaran (output) pendidikan, maupun bagi stakeholders pendidikan secara luas. Pada fase berikutnya, outcome pendidikan ini akan menghasilkan dampak (effect) bagi masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan yang bermutu akan menghasilkan outcome yang baik dan tentunya akan memiliki dampak yang baik pula.

Keberadaan institusi seperti Dewan Sekolah/Komite Sekolah yang di dalamnya terdiri dari unsur-unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, pemerhati pendidikan dan perwakilan orang tua siswa sejatinya berperan dalam  memberikan masukan-masukan yang tidak saja berupa material dan kesejahteraan guru, tetapi, yang paling penting, memikirkan dan mendorong bagaimana supaya sekolah bisa mencapai tujuan yang ditetapkan. Agar hasil lulusan memiliki outcome yang memadai. Oleh karenanya, dewan sekolah/komite sekolah juga perlu ikut merumuskan, memberi masukan dan mengevaluasi visi, misi, strategi sekolah agar apa yang dihasilkan oleh sekolah relevan dengan apa yang dibutuhkan  masyarakat.

b.       Fakta
Sebagian pejabat yang ada di sekolah seperti keberadaan Dewan Sekolah/Komite Sekolah yang di dalamnya terdiri dari unsur-unsur pemerintah daerah, tokoh masyarakat, pemerhati pendidikan dan perwakilan orang tua siswa sejatinya tidak seluruhnya berperan dalam  memberikan masukan-masukan yang tidak saja berupa material dan kesejahteraan guru, dan dan tidak memikirkan dan mendorong bagaimana supaya sekolah bisa mencapai tujuan yang ditetapkan.

c.       Kebijakan Mengenai Outcome Pembelajaran
Kebijakan mengenai output pembelajaran tertulis dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3 tentang dasar, funsi dan tujuan pendidikan nasional, dimana pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

d.             Solusi Terhadap Fakta Mengenai Outcome Pembelajaran
Solusi terhadap fakta mengenai outcome pembelajaran, menurut kami adalah dengan adanya pengajaran pendidikan agama yang lebih diperdalam dimana pembelajaran agama terutama Islam didalamnya terkait dengan prilaku yang harus dilakukan oleh seorang peserta didik. Selain itu faktor dari luar juga mempengaruhi terhadap hasil yang dicapai. Contohnya mengenai krisis moral dimana hal ini dipengaruhi dari luar baik itu dari lingkunan masyarakat ataupun dari tayangan saat ini.
Pada saat ini tayangan yang ada baik itu berupa televisi ataupun media lainnya sudah tidak layak untuk dikonsumsi bagi para peserta didik. Maka hal ini menjadi tanggung jawab kita semua sebagai seorang pendidik untuk dapat berkomunikasi dengan orang tua dan lingkungan agar menjaga anaknya dari bahaya televisi dan media komunikasi lainnya, setidaknya orang tua agar memberikan pengarahan kepada anaknya agar melihat media komunikasi diambil dari segi positifnya saja.

  


BAB III
PEMBAHASAN

A.           Input Pembelajaran
Secara teori input adalah semua potensi yang dimasukan ke sekolah sebagai modal awal kegiatan pendidikan di sekolah tersebut. Hal yang berkaitan dengan input adalah siswa baru yang diterima dan siap dididik atau diberdayakan.
Peserta didik secara formal adalah orang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri-ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa peserta didik adalah seseorang yang sedang berada pada fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri-ciri dari seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Pertumbuhan tersebut menyangkut fisik, perkembangan menyangkut psikis. Pada kenyataan yang terjadi di lapangan adalah angka putus sekolah masih banyak jika di bandingkan dengan negara lain. Maka dari itu diperlukan solusi untuk memecahkan permasalahan tersebut.
Peran serta masyarakat, lembaga pendidikan dan pemerintahan sangat diperlukan agar permasalahan tersebut tidak berlarut-larut. Dengan adanya wajar pendidikkan dasar yang sampai kepada pendidikan tinggi maka setidaknya hal ini akan menjadikan bangsa ini lebih maju.

B.            Proses Pembelajaran
Proses adalah serangkaian kegiatan pendidikan yang dirancang secara sadar dalam usaha meningkatkan input demi menghasilkan output dan outcome bermutu. Dari pernyataan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan adanya proses pembelajaran adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Namun, pada kenyataannya sering sekali terjadi ketidak sesuaian antara teori dan dan fakta yang ada di lapangan. Contohnya saja ada seorang pendidik yang tidak menyampaikan tujuan dari pembelajaran yang sedang berlangsung. Jika diamati dari mutu pendidikan salah satunya adalah dengan penyampaikan tujuan pembelajaran, maka hal ini merupakan ketidak sesuaian antara teori, kebijakan, dan fakta yang ada. Maka ini semua merupakan tanggung jawab kita bersama, dalam hal meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan.

C.           Output Pembelajaran
Secara teori output menurut (Lauren Kaulage,2000) adalah hasil langsung dan segera dari pendidikan. Sedangankan menurut (Margaret C, Martha Taylor dan Michael Hendricks, 2002) output adalah jumlah atau unit pelayanan yang diberikan atau jumlah orang-orang yang telah dilayani. Dan menurut (NEA, 2000) output adalah hasil dari aktifitas, kegiatan atau pelayanan dari sebuah program, yang diukur dengan menggunakan takaran volume/ banyaknya.
Dari berbagai pernyataan yang mendefinisikan tentang output maka dapat di ambil kesimpulan bahwa output adalah hasil dari proses pembelajaran dimana peserta didik adalah pelaku utama dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal output dapat dilihat dengan cara mengevaluasi terhadap kegitan pembelajaran.
Namun, jika dilihat pada fakta yang ada masih ada masalah dalam hal output atau hasil dari proses pembelajaran. Contoh secara umum masalah dalam output pembelajaran adalah pelaksanaan UN sebagai tahapan dalam eveluasi yang selalu dijadikan sebagai satu-satunya tahapan dalam output pembelajaran. Hal ini merupakan tanggung jawab kita semua demi meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan.

D.           Outcome pembelajaran
Secara teoritis outcome menurut (Lauren Kaulage, 2000) adalah efek jangka panjang dari proses pendidikan misalnya penerimaan di pendidikan lebih lanjut, prestasi dan pelatihan berikutnya,kesempatan kerja, penghasilan serta prestise lebih lanjut. Sedangkan menurut (Margaret C, Martha Taylor dan Michael Hendricks, 2002) respon partisipan terhadap pelayanan yang diberikan dalam suatu program. Dan menurut (NEA,2000) outcome adalah dampak, manfaat, harapan perubahan dari sebuah kegiatan atau pelayanan suatu program.
Dari definisi tersebut maka dapat kami simpulkan bahwa outcome adalah efek jangka panjang atau manfaat yang dapat diambil dan dirasakan terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan dalam hai ini adalah kegiatan pembelajaran.

Pada dasarnya dalam setiap pelaksanaan kegiatan selalu di tujukan pada hasil akhir begitu pula dalam kegiatan pembelajaran. Mengenai output pembelajaran dalam Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada pasal 3 tentang dasar, funsi dan tujuan pendidikan nasional, dimana pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Hal ini merupakan tujuan pembelajaran yang diharapkanoleh setip pelaku pembelajaran.

   Namun, pada kenyataannya dalam hal ini masih dapat di temukan beberapa masalah mengenai outcome pembelajaran. Contoh yang dapat dilihat dari hasil proses pembelajaran yakni krisis moral dalam dunia pendidikan. Dimana peserta didik mulai kurang menghargai sikap terhadap para pendidik atau guru, bahkan bukan hanya itu saja sampai ada seorang anak yang berani membangkang terhadap orang tuanya sendiri. Selain itu dewasa ini juga sering sekali terjadinya tawuran antar pelajar dimana hal ini tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan dari proses pembelajaran. Maka hal ini merupakan tanggung jawab bersama, agar permasalahan tersebut dapat diminimalisir. Jika hal ini terus dibiarkan maka tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diharapkan tidak akan tercapai. Artinya ini semua berpengaruh terhadap kualiatas dan mutu pendidikan yang ada di Inonesia ini.




BAB IV
PENUTUP

A.           Kesimpulan
Input adalah semua potensi yang dimasukan ke sekolah sebagai modal awal kegiatan pendidikan di sekolah tersebut. Hal yang berkaitan dengan input adalah siswa baru yang diterima dan siap dididik atau diberdayakan.
Untuk ketercapaian pendidikan bermutu, fungsional, produktif, efektif dan akuntabel, maka diperlukan beberapa hal yang terkait dengan input yang antara lain: Peserta didik ketenagaan, fasilitas, biaya, kurikulum, perencanaan dan evaluasi, hubungan sekolah masyarakat dan iklim sekolah yang memadai (Mulyasa,2013).

Proses adalah serangkaian kegiatan pendidikan yang dirancang secara sadar dalam usaha meningkatkan input demi menghasilkan output dan outcome bermutu.Contoh wujud proses pendidikan formal: Pembelajaran, pembinaan mental, pengembangan diri (oleh pihak sekolah), pelatihan, penugasan, dan sebagainya.

Output menurut (Lauren Kaulage,2000) adalah hasil langsung dan segera dari pendidikan. Sedangankan menurut (Margaret C, Martha Taylor dan Michael Hendricks, 2002) output adalah jumlah atau unit pelayanan yang diberikan atau jumlah orang-orang yang telah dilayani. Dan menurut (NEA, 2000) output adalah hasil dari aktifitas, kegiatan atau pelayanan dari sebuah program, yang diukur dengan menggunakan takaran volume/ banyaknya.

Outcome menurut (Lauren Kaulage, 2000) adalah efek jangka panjang dari proses pendidikan misalnya penerimaan di pendidikan lebih lanjut, prestasi dan pelatihan berikutnya,kesempatan kerja, penghasilan serta prestise lebih lanjut. Sedangkan menurut (Margaret C, Martha Taylor dan Michael Hendricks, 2002) respon partisipan terhadap pelayanan yang diberikan dalam suatu program. Dan menurut (NEA,2000) outcome adalah dampak, manfaat, harapan perubahan dari sebuah kegiatan atau pelayanan suatu program.

Dari berbagai pernyataan di atas mengenai input, proses, output dan outcome dapat kami kami simpulkan bahwa tujuan dari keseluruhan adalah untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan. Namun, dalam kenyataan yang terjadi di lapangan masih terdapat ketidaksesuaian antara teori, kebijakan dan fakta yang terjadi. Jika hal ini tidak dicarikan solusinya maka tujauan pendidikan yang diharapkan tidak akan tercapai sempurna. 

B.            Saran
Dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, maka dari itu kritik dan saran yang dapat membangun sangat kami harapkan agar dalam pembuatan makalah selanjutnya bisa mencapai pada tahap kesempurnaan.


















DAFTAR PUSTAKA

Ramayulis, Prof. DR. H. 2002, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Kalam Mulia.
Purwanto, Ngalim MP, DRS. M. 1998, Ilmu Pendidikan teoretis dan praktis, (Bandung: Remaja Rosdakarya.
Al Hamdani, Djaswidi, 2014 Administrasi Pendidikan Administrasi Pendidikan dari Perspektif Pendidik. Bandung: Media Cendekia Publisher.
Pidarta, Made, Prof. Dr, 2007 Landasan Kependidikan, Jakarta : Rineka Cipta.
Buku Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
http//googlebooks.com
http//tyanfedi.blogspot.co.













Komentar

  1. Input adalah peserta didikm tentunya lembaga pendidikan harus fokus membimbing dan mencerdaskan anak bangsa sehingga berkarakter, mohon penjelasnnya terkait input ini....terima kasih

    BalasHapus
  2. Apa peranan mpi dalam tema tersebut pak. Terima kasih

    BalasHapus
  3. Bagaimana langkah yang sebaiknya di buat oleh pemerintah untuk menghilangkan kesenjangan antara sekolah favorit dan non favorit? Atau kah memang sistem pembeda sekolah seperti ini harus ada, khususnya di Indonesia?
    (Sesuai dengan penjelasan materi yang di share melaluinya video dalam grup WA)

    BalasHapus
  4. Sudahkah peningkatan kualitas pendidikan yang dilakukan selama ini memberikan pengaruh positif terhadap pembangunan bangsa khususnya dalam bidang pendidikan? Dan dimakalah tersebut tercantum bahwa kurikulum saat ini masih menggunakan KTSP, kita tahu bahwa kurikulum saat ini sudah menggunakan kurikulum 2013 dan apakah kurikukum ini sudah meningkatan kualitas pendidikan saat ini?

    BalasHapus
  5. Izin menanggapi dari makalah bapak Ahmad Firmansya. Ada beberapa poin yg ingin saya kemukakan.
    1. Dalam makalah di atas, Bab II dan bab III berisi tentang pembahasan. Jadi apa yang membedakan pembahasan dalam kedua bab tersebut. Karena sesuai sistematika penulisan bab pembahasan hanya terdiri dari 1 bab saja.
    2. Saya tertarik berdiskusi masalah outcome pendidikan. Outcome merupakan kebermanfaatan dari ourput pendidikan. Contoh kasus, untuk alumni perguruan tinggi yg masih banyak menganggur atau yg bekerja tidak sesuai dengan bidang ilmunya. Dilihat dari input, mereka ada orang-orang yg telah lulus seleksi terutama PTN. Proses sdh dilaksanakan secara maksimal, namun faktanya masih banyak terjadi kasus yg seperti saya utarakan di atas. Bagaimana analisa bapak menyikapi hal tersebut?
    Terima kasih

    BalasHapus
  6. Maksud bapak dalam sub bahasan proses itu bapak menulis guru tombak sebagai ujung dalam peningkatan mutu pendidikan itu yang bagaimana? Karena dalam peningkatan mutu pendidikan bukan guru saja pak 😁 mohon penjelasannya pak. Terima kasih

    BalasHapus
  7. Assalamulaikum, pak izin bertanya. Bagaimana menurut tanggapan bapak apakah mampu meningkatkan profesionalisme guru dari beberapa program seperti, KKG, MGMP, PKG serta sertifikasi guru dan apakah ada dampaknya bagi peningkatkan mutu pendidikan jika program tersebut dilakukan secara terus menerus setiap bulannya?

    BalasHapus
  8. Terkait proses pembelajaran ini, yang dikukakan dalam makalah bapak, proses adalah serangkaian kegiatan pendidikan yang dirancang secara sadar dalam usaha meningkatkan input demi menghasilkan output dan outcome bermutu. Dari pernyataan tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan adanya proses pembelajaran adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Nah, pendidikan kita ini harus fokus pada proses, sebab baik buruknya proses belajar mengajar adalah pada proses ini, apa gagasan bapak agar upaya proses pembelajaran ini benar-benar sesuai harapan dari tujuan pendidikan nasional??? mohon penjelasannya secara detail dan jelas! terima kasih.

    BalasHapus
  9. Kesimpulan yang bapak buat masih belum bisa menjawab dari rumusan masalah yang bapak buat seharusnya kesimpulan itu bisa menjawab rumusan..

    BalasHapus

Posting Komentar